Mengapa masih ada orang gondrong dan brewok walaupun ada tukang cukur?
Ada banyak cara menjelaskannya, tapi poin terpentingnya adalah bahwa tukang cukur tidaklah Maha Kuasa dan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semua tukang cukur tentulah tidak mampu mencukur semua orang di dunia yang brewok dan gondrong setiap saat; dan dengan gratis pula; sedemikian rupa sehingga tak ada satu pun orang di dunia yang sempat terlihat dalam keadaan gondrong dan brewok. Tapi Tuhan bisa. Itu karena Tuhan pasti mampu. Tapi apakah Tuhan mau mencukur semua orang setiap saat?
Itu sebabnya fakta adanya orang yang masih gondrong dan brewok tidak menjelaskan apapun mengenai ada atau tiadanya tukang cukur. Dengan sangat mahfum kita tentu tahu kenapa masih ada orang brewok dan gondrong sekalipun banyak tukang cukur.
Tidak demikian halnya dengan Tuhan yang Maha Segalanya. Ada atau tiadanya penderitaan dan kejahatan adalah fakta yang bisa dijadikan dasar argumen mengenai eksistensi Tuhan karena Tuhan diasumsikan Maha Kuasa--bisa melakukan apapun--dan sangat menyayangi umat manusia sehingga tentunya akan menghindarkan penderitaan menimpa manusia.
Jika Tuhan Maha Kuasa tentunya Dia mampu menghapuskan penderitaan dan kejahatan, lalu mengapa masih ada penderitaan dan kejahatah. Artinya Tuhan tidak mau. Kalau Tuhan tidak mau menghapuskan penderitaan dan kejahatan, artinya Tuhan tidak Maha Penyayang, dia sengaja membiarkan manusia mendapatkan penderitaan atau berkubang dalam kejahatan--entah sebagai pelaku atau korban. Tuhan yang tidak Maha Kuasa atau Tuhan yang tidak Maha Penyayang tidak layak disebut Tuhan.
Cerita tukang cukur sebetulnya adalah upaya menjawab trilema Epicurus (
http://en.wikipedia.org/wiki/Trilemma#Epicurus.27_trilemma) dengan analogi yang salah.